-->

Sabtu, 24 September 2016

Penulisan Feature; Profil (Kepribadian)

Tahun Terakhir ku di Negeri Sebelah




Kita hidup di jaman remaja bangga melakukan kenakalan dan mengatasnamakan kalimat ‘Gue bukan munafik’. Tabiat nya manusia tidak pernah luput dari kesalahan, tetapi bukankah garis hidup seseorang sudah terencana oleh takdir Tuhan? Namun hidup adalah pilihan dan jika kita salah pilih, apakah Tuhan yang sudah menginginkan kita berdosa?
            Hidup begitu membingungkan bagi gadis yang beranjak dewasa seperti ku. Namaku Evalina dan ini lah kisahku ketika mulai memasuki sisi kedewasaanku. Sisi gelap atau gemerlap hanya tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Seperti contoh ini; jika ku duduk berhadapan dengan seseorang, aku menulis angka 6 dan aku tetap menyebutnya 6, tetapi seseorang di depan hadapanku akan berkata itu angka 9. Seseorang tadi tidak salah, hanya saja untuk menganggap angka itu sama dengan ku yaitu menyuruhnya duduk di sebelahku. Ku harap diriku bisa lebih sering membuka pikiran orang-orang diluar sana yang terlalu cepat menilai sesuatu.
           Kala itu musim gugur di Melbourne. Tahun 2014 kian jadi saksi, tepat di kota nya ku pijakan langkahku ke seluruh tempat yang suatu hari akan ku kenang. Rindu ku sungguh dengan budaya jalan kaki.Tentu aku tidak selalu sendiri, dan kisah perjalanan menyenangkanku tidak hanya satu hari. Mulai dari berkeliling di pusat kota sampai berkelana hingga sengaja ‘tersesat’.

Berkunjung dan senang-senang sebenarnya bukan tujuan utama ku ada di negeri kangguru. Sebelumnya aku sudah tinggal bertahun-tahun di Australia. Aku ikut ibu kandung ku karena beliau menikahi warga asli Australia. Itu pernikahan kedua ibu ku. Orang tua kandungku telah lama bercerai. Aku anak pertama dari dua bersaudara dan ada di pihak asuh ibu. Walau awalnya berat,tak hanya untuk menerima kenyataan orang tua ku harus berpisah,serta kenyataan bahkan diriku terpisah oleh sang adik. Tetapi kami tidak menyalahkan orang tua kami, justru kami bersyukur atas kesempatan dan takdir yang kita harus jalani setelah pepisahan orang tua kami.
Hidup ku berlanjut terpisah Negara oleh adik ku. Adikku terlihat menikmati hidupnya untuk terus tinggal di Indonesia. Sementara tahun pertama ku di Australia tidak semulus yang semua orang harapkan.Hidupku sungguh berubah,mulai dari bahasa yang harus ku gunakan,hingga budaya individu yang ku hadapi. Aku sangat merindukan teman-temanku, ketika ku sekolah aku semangat karena ada teman-teman terbaik yang aku akan jumpa, dan ketika ku pulang juga ada teman dekat karena bertetangga. Aku terlalu sibuk memikirkan ‘andai saja’, sedangkan ibu ku sibuk memikirkan keadaan sempurna yang harusnya terjadi. ‘Andai saja’ ibuku tidak bercerai, ‘andai saja’ ibu ku tidak melahirkan ku terlalu cepat, ‘andai saja’ aku bilang pada pengadilan saat perebutan hak asuh,kalau aku lebih senang di Indonesia. Apa yang sebenarnya bocah 9 tahun pikirkan di pengadilan? Yang ku tahu, suami ibu ku selalu membelikan apapun yang ku minta di bandingkan ayah ku. Hal apa yang membuatku menolaknya? Tetapi adikku tidak se-matre pikiran bocahku,karena terbilang sudah termanipulasi oleh ibu tiriku dan secara tidak langsung ia menanamkan pikiran buruk tentang ibu kandungku kepada adikku. Aku tahu itu. Ibu ku terbilang belum tua,ibu ku dulu nikah muda dan jarak umurku dan ibu hanya 20 tahun. Terbayang ego kedua nya? Maka muncul lah segala perbandingan aku pada kedua Negara
Awalnya hidupku terasa monoton. Pribadi ceria dan humoris ku berubah. Bahkan tiada lagi popularitasku karena sering melanggar aturan. Aku hanyalah anak baru yang pendiam, dan seolah-olah lugu. Butuh waktu lama untuk menemukan teman. Dandanan ku terlihat culun. Bahkan walau sekelas, bukan berarti kita berteman. Sepulangnya ku bersekolah, banyak sekali hal kecil dirumah yang harus ku perhatikan karena ibu ku perfeksionis dan suaminya yang sangat peduli dengan personal higienis. Hampir lupa, pasca menikah ibuku langsung hamil. Jadi selama ku di rumah,aku juga harus terima disalahkan karna ulah adik ku yang satu ini,selain dari kesalahanku sendiri karena apapun yang ku lakukan kebanyakan salah di mata ibu. Aku si anak keras kepala dengan ibu yang ego nya juga besar, banyak hal kecil yang ibu perbesarkan dengan nada-nada tingginya,seperti serpihan dari penghapus pensil yang jatuh ke karpet. Belum lagi ayah tiri ku yang akan menasehatiku karena salahku selalu berbicara balik saat dinasihati ibu dengan nada seperti sambaran petir. Aku yang terlalu Indonesia atau mereka yang terlalu Australia? Serasa dunia melawan ku seorang diri. Tidak akan ada yang di pihak ku. Kecuali, mungkin kembali ke Indonesia. Begitulah pemikiran bocah puber.
Musim berganti dan berlalu, tiba saatnya berlibur ke Indonesia. Pasti nya hanya singkat,dan aku harus kembali. Dengan perasaan sedih dan segitu besar kehangatan rasa kerinduan teman-teman terhadapku dan segala hal kita habiskan bersama bersenang-senang, aku memutuskan tidak kembali ke Australia. Aku kabur dari ibu ku,dan hanya menyampaikanya lewat handphone. Aku tahu ibu ku hanya ingin melihatku bahagia. Ibu membiarkannya, tiket pesawatku pun hangus.
Kejadian seperti itu tidak hanya sekali. Entah segitu sulitnya atau kurangnya dukungan atau bahkan tidak bisa berpaling dari hidup dengan kebiasaan di Indonesia yang menjerumuskan ku. Aku berakhir dengan ijazah SMP dan SMA Indonesia. Aku terbuai dengan teman yang rutin dengan kerja kelompok. Berkunjung kerumah teman hanya berjarak ketukan pintu. Ku lalui masa sekolah ku di Australi,setelah lulus SMP di Indonesia ku kembali melanjutkan studi di Australia tetapi menyerah untuk mengikuti tes kelulusan. Sayangnya ketika tahun-tahun berikutnya ku kembali dan mencoba bertahan, aku masih dengan jiwa labil yang gampang sekali terpengaruh. Padahal ibu ku sudah sedikit berubah. Aku sudah lebih banyak teman dekat, bahkan semasa liburanku lebih sering menginap dan berada dirumah teman di banding rumah. Aku bahkan sudah mengikuti segala kegiatan komunitas Indonesia disana. Aku sudah mempunyai tabunganku sendiri dengan bekerja paruh waktu. Tetapi, masih banyak sekali alasan ku tuk kembali ke Indonesia. Aku selalu dari awal memohon untuk mengusahakan adik kandungku tuk ikut tinggal di Australia. Sangat di sayangkan ibu tiri ku mempersulit itu dan benar adanya manipulasi karna saat ku tinggal kembali ke Indonesia dan mencoba tinggal bersamanya adalah kesalahan. Ia mencoba meyakinkan ku bahwa ibu ku yang membuat rumah tangga nya sendiri hancur. Untungnya aku sudah mengetahui dua sisi; ayah dan ibu ku. Mereka pasti sama-sama tidak ingin disalahkan, dan aku bersyukur atas keikhlasan ku soal perceraian mereka. Maka buat ku, melongkapi sekolah, ingin bekerja, hidup sendiri tanpa aturan dan cepat dewasa adalah solusiku menjalani hidup lebih mudah.
Tidak terfikirkan awalnya, mengikuti tes kelulusan itu sebenarnya lebih susah di Indonesia, tetapi pikiran ku yang mengsugestikan jangan khawatir karena ada banyak teman di sekeliling ku untuk membantu. Lambat laun ku sadari hidup di Indonesia ku semakin seperti orang susah. Aku harus tinggal di rumah kakek nenek yang jauh sekali dari sekolahku. Antara Bekasi dan Jakarta ku berangkat subuh,sampe rumah isya, langit selalu gelap untuk ku. Sampai ku tuntut ayah ku untuk membiayaiku kost dekat sekolah walau akibatnya ku harus makan seadanya,bahkan hanya sebungkus Indomie sehari. Jauh sekali dengan kehidupan ku yang serba ada semasa di luar negeri,  yang semakin terus makmur karena juga bisa kerja paruh waktu. Meranaku dikarenakan aku sempat tidak di perbolehkan tinggal kembali dengan ayah ku oleh ibu tiri ku. Padahal yang terjadi bukan salahku dan mau tahu siapa? Seling berapa bulan kemudian dia kena karma nya. Adikku, terusir. Bukankah secara tidak langsung ku bilang bahwa resiko diriku sebagai anak pertama harus selalu terima disalahkan karena ulah adik-adikku. Aku bukan sedih atau senang karena ingin tertawa jahat kepada adik ku. Aku senang akhirnya adikku dan ibu kandungku terbebaskan. Terbebaskan dari hal yang merumitkan ibu ku untuk menemui adikku. Terbukti setelah kami lulus sekolah, hidup kami lebih merdeka. Bahkan ketika ayahku pun bercerai lagi ku justru bahagia ‘dengan’ nya.
Aku dan adik kandungku hanya berjarak 1 tahun, tetapi aku berakhir dengan tingkat sama seperti adikku hanya karena sekolah tidak mengizinkan aku langsung mengikuti tingkat akhir karena SMA harus dengan memilih jurusan antara IPS atau IPA semenjak tingkat 2. Sangat tidak di anjurkan juga untuk langsung ujian nasional dengan minimnya pengetahuanku tentang pelajaran di Indonesia. Pada akhirnya kami lulus bersamaan. Kami juga menerima kejutan yang luar biasa.
Tidak pernah ku rasakan sebahagia itu saat ku di telephone ibu dan di tugaskan untuk mengurus segala berkas untuk memperpanjang visaku dan mengajukan untuk adikku, bahkan nenek ku. Kita berangkat ke Australia. Yang ku impi-impikan terwujud, terbukti sekali ku lebih nyaman disana dengan adikku. Ternyata yang ku alami semasa kecilku pertama kali disana  pun wajar. Adik dan nenek ku mengalaminya, baru beberapa hari mereka sudah merindukan Indonesia. Belum lagi keseganan akan ayah tiri ku. Mereka sangat malu-malu melakukan sesuatu, hanya takut yang mereka lakukan salah di rumah itu. Sempat terjadi konflik kecil karena perkara tersebut. Karena disitu ayah tiri ku mungkin baru merasakan rasanya seperti aku dulu terlalu Indonesia melawan kalian dengan budaya Australia. Sekarang kami lebih kuat dengan budaya Indonesia melawan dia seorang diri dirumah itu, tapi malah kami yang nyaris dipulangkan karena ke Indonesiaan kami yang sepertinya belum tepat ada di Negara lain. Tentu harus di selesaikan dan akhirnya justru setelah itu kami semakin leluasa dan lebih nyaman dirumah.
Adik dan nenekku hanya sebatas berlibur dengan maksimal berada disana 3 bulan sesuai dengan visa turisnya. Bisa saja di perpanjang, namun nenek ku harus kembali karena banyak sekali yang harus beliau tangani, seperti rumahnya dan membantu merawat cucu-cucunya yang harus tinggal bersamanya. Sementara adikku harus segera memulai perkuliahanya. Adikku tidak punya banyak waktu untuk menyibuki dirinya mendaftar ke kampus-kampus negeri, dan sebelumnya ayah kami pun telah mewanti dengan keadaan biaya seadanya, kami sebaiknya memilih kuliah di tempat dengan biaya yang murah dan cukup sampai diploma saja. Adikku telah selesai mendaftar dari sebelum ia ke Australia. Sementara aku sibuk dengan mondar-mandir kantor imigrasi, notaris dan agen pengurusan visa. Aku memiliki visa tinggal permanen di Australia, maka aku meminta ibu untuk memberiku kesempatan tinggal sekali lagi karena aku sudah terpaksa menunda perkuliahanku setahun. Aku ku pun bertekad untuk mencari kerja,guna bisa mendapatkan perkuliahan lebih baik dengan hasil keringatku sendiri. Aku sudah cukup dewasa dan terlalu malu untuk terus meminta biaya apapun dari orang tua,dan karena selama ini pun aku sudah sangat merepotkan ibu dan ayah tiri ku.
Tiga hari sebelum mereka kembali ke Indonesia adalah ulang tahunku yang ke 20. Aku mengajaknya untuk makan bersama di sebuah restoran tempat lama ku bekerja. Ibu ku menyarankan untuk sekedar menyapa manager lama ku, kemudian meminta ku mencoba bertanya jika ada lowongan. Hal baik yaitu ketika banyak yang masih mengenalku. Boss ku pun ternyata sedang membutuhkan karyawan. Aku langsung di terima tanpa harus menyerahkan surat lamaran lagi,
Semenjak kepulangan adik dan nenek ku ke tanah air, sangat terasa sepi. Tetapi hidupku terlalu sibuk bekerja dan menabung untuk menghiraukan kerinduan. Toh, hidupku di tanah air sudah tak seindah masa-masa kecil dulu. Kebutuhanku semakin tinggi, hidupku sudah mandiri dan susahnya mencari uang di Indonesia. Hingga teman-teman yang dulu ada pun entah kemana. Apakah mereka hanya ada karena uang dan kesenangan yang ku tawarkan? Kemana mereka sekarang saat ku butuh? Ku hanya berteman objek. Mengobrol berbatas lewat seluler saja.
Hingga suatu ketika di salah satu sosial media, ku lihat teman ku tampak berbicara dengan temannya. Terpajang fotonya bersama seseorang yang ku kenal. Panggilannya Icha,ternyata dia adik dari teman lama ku yang pernah  berkunjung di Australia. Sangat kebetulan, ia sedang berada di Australia. Kami pun memutuskan segera bertemu. Takut tidak cocok, kami awalnya sama-sama mengajak teman dekat kami. Tetapi kami justru lebih akrab daripada teman dekat kami sebelumnya. Kami pun makin sering pergi berdua. Icha membuatku lebih mensyukuri hidup untuk tinggal di negeri kangguru itu. Aku sadar banyak orang yang ingin berkesempatan untuk bisa hidup sepertiku. Tetapi aku selalu menepis tentang keindahan tinggal seperti ini,yang kenyataanya monoton. Sampai Icha membukakan mataku kepada sesuatu yang bermakna.
Tanpa di sadari, aku sudah terlalu Australia sebagai pendatang. Aku sudah terlalu menilai hal yang tidak ada di Indonesia dan yang ada di Australia itu biasa saja. Seperti transportasi tram, kereta yang berjalur berbarengan dengan pengendara mobil atau motor lainnya. Gedung-gedung dengan nuansa klasiknya, sudah terlalu sering ku lewati saja tanpa ku pandang dan nikmati ke indahannya. Icha dengan caranya mengajakku untuk foto di segala tempat indah yang tidak ku sadari karena ia melihatnya dengan mata turis. Aku dulu selalu berfikiran akan menjadi norak dan akan di lihat orang seperti kampungan, tetapi dengan Icha justru kami dengan kelebihan perbedaan warna kulit dan budaya, kami berhak bertingkah layaknya turis norak. Kami mungkin hanya berdua, tetapi kami sangat mampu melawan dunia yang akan membentuk kami menjadi yang dunia mau. Kami cukup kuat untuk menjadi diri kami sendiri. Kami tidak harus berjalan dan bertingkah layaknya ‘bule-bule’ . Kami tidak harus peduli apa kata orang, anggap saja kami tidak mengerti,dan tidak harus otak kami translate untuk di cerna. Karena kami punya cara sendiri bertahan hidup di Negara orang. Kami masih bisa terus berbahasa Indonesia dimanapun kami mau. Mulai dari mengomentarin orang lewat,harga di toko yang kemahalan atau sekedar menilai orang dengan cara kami dengan bahasa rahasia tanpa harus ada yang sakit hati.
Walau pekerjaanku sedikit terkecoh, tetapi setidaknya aku mengerti untuk menikmati hidup. Untungnya Icha hadir disaat tabungan untuk biaya kuliah sudah terkumpul. Karena itu berakibat banyak hari libur yang aku minta dari kerjaan ku. Tetapi justru jadi motivasi kerjaku, untuk akhirnya bisa kembali bertemu bersenang-senang. Aku sebenarnya harus lebih banyak ambil shift kerja karena senang-senang ada modalnya dan aku sudah di posisi cukup bingung dengan kepunyaan uang yang sudah melebihi cukup tersebut. Maklum saja, jiwa muda yang belum terlalu memikirkan masa depannya. Yang aku tau, aku akan kuliah, itu saja dulu yang bisa terbesit. Lagipula jiwa muda ku, sudah cukup jenuh untuk selalu kerja, aku tau aku membutuhkan hiburan.
Tidak lagi hanya sekedar menapaki jejak ke segala penjuru kota, kami memutuskan mencoba club malam. Dengan itu aku fikir aku sangat memanfaatkan dengan baik masa tenggang setahunku dan juga masa muda ku. Aku tahu, aku mengatasnamakan “aku bukan munafik” dan “karena hidup cuma satu kali” justru janganlah melihat dari sisi negatif saja. Setidaknya walau ibadahku belum becus, tapi aku masih punya moral. Bahkan untuk pergi ke club/diskotik itu aku meminta izin. Ibu ku secara agama sebetulnya religius. Sebenarnya perizinan darinya sangat sulit, harus melalui negosiasi yang amat rumit. Kebanyakan orangtua melarang anaknya pergi ke klub. Seperti biasanya para orangtua mengeluarkan alasan-alasan klise seperti ada banyak orang jahat, pemabuk, bahaya seks bebas, dan lain-lain. Pada akhirnya mungkin ibu ku justru menghindari jika aku harus penasaran dan jika di larang aku akan tetap pergi dengan berbohong,yang nanti nya jika terjadi sesuatu ibuku tidak akan tahu karena aku terlalu paranoid untuk mengungkapkannya. Ibu hanya berpesan untuk menjaga diriku dan ibu meminta ayah tiri ku yang mengantar dan menjemputku. Ibu ku berharap aku hanya akan berjoget dan menari-nari saja sepertinya dengan teman-temannya. Ibu ku sering menceritakan pengalamannya. Ayah tiri ku tidak naïf, dan jika ku ingin memesan minuman, ia menyuruhku untuk selalu membeli nya sendiri dan jangan pernah menerima apapun dari orang asing.
Aku tidak langsung membanggakan foya-foyaku. Pertama kali ku mencoba nya, aku ingin sekali hanya langsung ke lantai dansa dan menari seperti tiada yang memperhatikan. Aku dan Icha telah mencoba nya namun entah mengapa itu sulit dan memalukan. Kami pun mencoba memesan minuman, sebelumnya aku meminta teman sekolahku dulu untuk memberikan ku panduan lewat pesan singkat. Terdengar seperti kutu buku pergi berpesta bukan?   

Kami menyadari sensasi senang melepaskan segala jenuh dan pikiran yang pekerja keras seperti aku butuhkan. Banyak realita sosial menarik yang bisa ditemukan di sana. Tentang cara berpakaian, interaksi, perilaku, dan hiburan yang tak ditemukan di tempat lain. Maka tiap akhir pekan selama berbulan-bulan kami terus melakukannya. Hingga akhirnya aku tidak ingin lagi diantar jemput, karena ayah tiriku harus menjemputku sebelum kami puas berjoget ria dengan begitu banyak minum untuk tertawa lepas. Kami mengunjungi beberapa bar dan club di kota, dengan sedikit kebohongan kalau kami hanya pergi ke kota untuk berjalan-jalan, dan mengakatan bahwa aku akan menginap di tempat Icha dan begitu pula sebaliknya dengan Icha yang mengaku akan menginap dirumahku. Kami berakhir melek semalaman, dengan satu lagi teman baik kami yang juga pendatang, dari Skotlandia, bernama Michael. Mulai dari tempat perjudian/ casino gratis hanya demi membeli minuman beralkohol, dan kadang kala nya kami menguji keberuntungan kami. Lebih sering uang judi itu akan kami buang lagi untuk mencoba di permainan perjudian di tempat yang lebih berkelas. Kalaupun itu menguras dompetku, aku akan segera cepat mengumpulkan uang kembali. Lagipula cukup terbayar dengan segala sensasi yang ada.
Kami sepertinya tidak ingin berfikir panjang akan kerugian dosa yang kami perbuat, kami hanya memikirkan keuntungan positif. Pertemanan kami jadi lebih luas, dan tidak selamanya mengenal seseorang dari club itu adalah orang yang akan menjerumuskan mu ke hal buruk. Mungkin kami berdosa, mungkinkah Tuhan yang sudah merencenakan itu? Salahkah aku bersenang-senang tanpa merugikan orang lain? Ini hanya salah satu cara orang untuk bertahan menjadi sosok bahagia di suatu tempat asing/berbeda.  Anggap saja ini sisi bercanda dalam hidup ku, karena sisi formal ku ya harus menjalaninya dengan beribadah, mencari ilmu dan bekerja demi kelangsungan hidup.
Hingga waktuku telah genap setahun disana, saatnya ku kembali meneruskan perjalanan hidup dengan serius kali ini di tanah air tercinta. Aku sudah tidak lagi main-main ke klub. Aku benar-benar puas dan ini fase taubat untuk meluruskan ibadahku. Aku tahu hidup itu pilihan,seperti walaupun aku ke klub  mungkin memang mengarahkan ke aktivitas negatif tapi aku punya pilihan untuk memilih untuk terus “iya” atau “tidak” sudah cukup. Walaupun tinggal di luar negeri, janganlah terlalu besar menghayal untuk keindahan yang kamu harapkan. Ini hanya lah caraku melaluinya. Aku seharusnya berharap ada cara lain yang lebih baik, tetapi apa yang salah dengan ini? Tidak ada yang berasumsi aku orang jahat. Aku masih sempat terus aktif dalam kegiatan komunitas Indonesia, terus mengenalkan budaya Indonesia lewat tarian dan kostum busana adat yang aku sering tampilkan. Terlebih aku justru bangga memanfaatkan kegiatan pergi malam ku dengan benar. Karena tidak sendiri pula, kita bisa saling menjaga diri. Kesetia kawanan sangat teruji dan terbukti, kami mengambil giliran permalam untuk saling bertanggung jawab dan menjaga kadar alkohol teman dekat kami,maka dari itu ada baiknya jika aku dan Icha pergi bertiga, aman terkendali ketika ku dan Icha ada di pengawasan Michael.
Jadi, janganlah cepat menilaiku,duduklah di sampingku agar kau dan aku ada dipihak yang sama. Selama ini orang tua melarang anak clubbing berdasarkan stigma negatif dari media massa. Kalau aku secara langsung pernah mencobanya, kelak ku punya senjata lebih kuat untuk melarang atau tidak anak ku bukan? Setidaknya aku akan tahu jika anak ku berbohong. Hempas dari itu, aku pastinya tidak akan penasaran lagi. Bahkan ada kala aku boleh jadi akan sadar kalau clubbing tuh ternyata hanya begitu saja. Banyak juga orang yang justru setelah ke club malah menemukan banyak alasan lebih tepat untuk tidak ke sana lagi. Lagipula, aku kini sudah fokus dengan kuliahku,dengan tidak menyia-nyiakan hasil jerih payah ku dan saat aku mengetik ini, kejadian tadi hanyalah kisah 5 semester yang lalu, di tahun terakhir ku di negeri sebelah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar