Ternyata teman baik ku adalah...
Bertahun- tahun sudah ku jalanin pertemanan dengan tetangga ku, sebut saja Bulan. Bulan terbilang anak rumahan, sehari-harinya agak dikekang orang tua untuk tetap didalam rumah dan mengurus rumah karena kakak dan kedua orang tuanya sibuk bekerja. Berbeda denganku, orang tuaku sudah bercerai,aku tinggal bersama nenek dan kakek ku, ibu ku tinggal diluar negri dan ayah ku jarang berkujung. Aku merasa lebih bebas bermain karna termasuk cucu kesayangan. Aku kerap sering mengundang teman-temanku ke rumah. Kala itu Bulan dan teman-temanku bermain di rumah ku. Tidak lama dari itu pun pertemanan aku dan Bulan merenggang. Namun mengapa? Mungkinkah Bulan iri?
Kami berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah. Bahkan sebelum orang tuaku bercerai, terlihat kehidupan Bulan lebih makmur. Bisa dikatakan ekonomi keluarga ku mulai tertolong disaat ibuku menikahi seorang 'bule'. Namun sejatinya teman, aku tidak pernah sekalipun lupa akan berbagi,khususnya pada Bulan. Bulan bahkan pernah ku ajak ke restoran mewah. Hidupku bak putri kerajaan disaat ibu ku kembali ke Indonesia. Namun ada saat dimana, selang waktu jauh dari ibu, tabunganku menipis karena banyak kebutuhan dan mungkin aku terlalu royal diawal. Tapi disitu hadir Bulan, yang nampak selalu dirumah suatu hari ia mengajakku kembali ke tempat2 yang pernah ku ajak,termasuk restoran mewah. Awalnya terlihat saking tidak pernah keluar rumah, aku menduga ia telah rajin menabung.
Sepertinya bnyak hal-hal yang aku sudah curigai tentang Bulan. Bulan sepertinya jarang berkata jujur. Dapat di buktikan dari kejadian pertama ia mengajaku bepergian dengan uang yang ternyata ia akui dari pamannya. Namun pamanya hanya membelikan sebuah handphone n*kia bewarna hitam. Ia mengaku disuruh untuk menjualnya dan hasilnya untuk diberikan kepada Bulan. Aku menurut menemaninya dan setelah itu kami langsung beranjak mulai berfoya-foya dengan ditambahnya bungkusan amplop coklat yang ternyata berisi uang 2 juta Rupiah yang ia akui adalah hasil tabunganya. Namun nampaknya itu adalah hal yang aku sesali.
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang berjalan sendiri didepan gang rumah, ada seorang gadis bersama ibu nya menyampiriku dan bertanya dimana kediaman Bulan. Sontak ku berantusias mengantarkanya. Dalam perjalanan aku iseng bertanya, apa mereka saudara nya Bulan. Sang ibu justru mulai membeberkan cerita, bahwa anaknya adalah teman sekolahnya dan ia mempercayain bahwa handphone anaknya telah dicuri Bulan. Lantas aku bertanya spontan jenis hp tersebut, terungkap handphone tersebut percis dengan yang Bulan jual. Ku tidak ingin terlalu ikut campur,walau ada rasa hina karena telah ikut menikmati uang yang ternyata haram.
Langkahku yang tergesa-gesa dan sang ibu dengan anaknya ternyata sudah jadi rasa penasaran bagi tetangga ku yang lain. Setelah ku antarkan, teman ku Reva mulai menghampiriku dan bertanya ada apa. Ku jelaskan bahwa Bulan diduga mencuri handphone di sekolahnya. Reva dengan rasa yang sudah ia duga mulai menceritakan sesuatu. Reva bercerita tentang uangnya yang hilang senilai dua juta, dengan ciri-ciri dibungkus amplop coklat. Reva seperti sudah yakin bahwa Bulan yang mengambilnya, karena saat itupun Bulan pernah berada di dalam kamar Reva sendiri dan saat Reva kembali kekamarnya, ia malah buru-buru ingin pulang. Disadari langsung uang yang diperuntukan untuk membayar spp sekolah ludes saat itu juga. Untungnya keluarga Reva ikhlas menanggapinya,lagipula mereka tidak punya bukti kuat yang bisa membuktikan bahwa Bulan pelakunya, karena jelas kamar Reva tidak memiliki cctv dan Reva saat itu hanya sendiri dirumahnya dan tidak ada yang melihat kalau Bulan main kerumahnya saat itu. Aku mulai penasaran akan motif nya, namun pertama-tama aku berharap aku bukan korban selanjutnya.
Kenyataanya,aku adalah target selanjutnya. Hanya nyaris aku jadi korban. Aku takut ini bukan lagi karena iri semata,tetapi sudah menjadi kebiasaan. Aku mengenalnya sebagai gadis yang lugu dan sopan, namun terlalu pintar untuk seorang berpenyakit kleptomania. Kleptomania sendiri, adalah penyakit akan kebiasaan dengan mengambil sesuatu yang bukan hak nya, namun tidak jarang bahwa mereka melakukannya diluar alam bawah sadar, dan barang yang mereka ambil terbilang asal ambil cenderung barang2 yang kurang berarti.
Kesempatanlah yang membantu Bulan. Bulan tau apa fungsi barang2 yang akan ia ambil, karena ia sadar menginginkanya guna hasilnya untuk berfoya-foya semata.
Entah kenapa ia mengincar ku juga, padahal aku teman terdekatnya. Jadi apa karena ia iri dengan ku? Nyaris handphone ku raib di rumah ku sendiri. Tentunya,ia juga berada dirumahku. Hebat sekali ia memanfaatkan suasana dimana ada banyak pula teman2ku yang berkunjung. Jika dianalisis pun, teman2ku yang lain yang paling tidak mungkin untuk mencuri. Mereka berasal dari keluarga ekonomi rendah kebawah, dan ilmu agama mereka lebih kuat, adapun satu dari mereka termasuk anak orang kaya,namun sisi religius mereka lebih kuat bahkan dariku. Yang ku tahu Bulan selalu dirumah bahkan untuk mengaji di madrasah saja ia cenderung jarang, karena harus menjaga rumahnya. Saat2ku menemani ia dirumahnya pun jelas hany menemaninya bermain,setelah itu merapihkan rumah, serta memasak,dan ia pun jarang beribadah, sungguh prihatin sebenarnya.
Kembali ke handphone ku yg nyaris ia bawa pulang. kami terlalu asik mengobrol hingga lupa akan handphone ku. Ku mencari kemana-mana tidak ketemu. Tetapi, ada kartu telfon dengan provider ku yang ku temukan disebelah Bulan, pada pojokan sofa. Aku penasaran kenapa ada kartu di liar handphone, aku mulai memanggil om ku untuk membantu, ku meminjam handphone nya untuk dicoba jika ini benar nomer ku dan ternyata benar. Kita semua heran bagaimana kartu bisa keluar sendiri. Disitu kami mulai menunjuk nunjuk, dan aku sudah tahu siapa yang harus kucurigai. Terlebih Bulan selalu beralasan sakit perut mondar mandir kekamar mandi, dan keluarnya,ia seperti menahan sesuatu pada ujung bajunya. Dengan alibi sakit perut,ia pun membongkokan badannya. Ia sempat akan kabur kembali kerumahnya, ku biarkan namun karena sakit,sahabat sejatinya harus menemaninya. Namun karena ku sibuk mencari hp keseluruh bagian isi rumah,bahkan pada sofa ku pun ku selipkan tangan ku keseluruh bagian dan berkali kali dicheck oleh teman dan adik ku pun tidak ada hp disitu. Maka, ku suruh salah satu temanku mengantarnya sembari memaksa perlahan untuk membantu ku mencari hp. Ia pun berjanji akan kembali lagi setelah ia mengambil obat.
Kami serentak tidak menunggunya dirumahku namun didepan rumahnya. Sekeluarnya ia tampak seperti orang sehat. Aku dan nenekku mulai berintrogasi. Kami pun dengan to the point menyuruhnya agar tolong dikembalikan. Ia masih mengelak bahwa ia bukan pelakunya dan mulai menyudutkan balik kenapa kami menuduhnya. Kami pun tidak berhenti dan menepisnya karena kami tidak menuduh,melainkan itu fakta. Ku mulai menangis, nenek dan temanku mulai pasrah dan memohon mengatakan,tolonglah orang tuaku jauh,dan hanya berkomunikasi via handphone. Dan memangnya apa salah ku terhadap Bulan? Kenapa Bulan setega itu. Aku disuruh nenekku kembali mencarinya,nenekku pun percaya-jika rejeki ku pasti akan selalu jadi miliku. Bulan sempat kembali ke dalam rumahnya dengan alesan mengunci pintu. Juga entah obrolan apa yang nenek dan Bulan lanjutkan. Hingga sekarang aku pun tak tahu, hanya saja nenekku bilang memang Bulan pelaku. Mungkinkah Bulan sudah mengaku? Karena setibanya dirumahku nenekku justru mencegahku dan teman-temen untuk mencari dan membiarkan Bulan mencari. Seketika handphone itu dengan mudahnya Bulan temukan, dan dengan mengeluarkan dari selipan sofa. Tentu dengan gestur awal menutupinya,kata temanku-ia memasukan hp ku dan pura2 mengambilnya. Jelas saja, sofa sudah lebih dari 5 kali di check dan kosong tidak ada handphone dan barang apapun sebesar hape ku,benar-benar kosong.
Nenek ku mulai tersenyum dan berpura-pura menyalahi adik ku karena tidak bisa meriksa dengan benar,walau nenekku pun sudah tahu Bulan pelakunya. Pesan moralpun ku dapat dari sosok nenekku, yang mungkin paham bagaimana Bulan yang hidupnya agak terkekang, dan ia hanya ingin seperti teman-teman yang lain dengan bisa lebih menikmati hidup masa remaja. Lagipula, alangkah malunya memang untuk mengakui kesalahan, nenekpun tak ingin mempermalukanya. Mungkin dari situ Bulan menyadari bahwa ku pun selama ini sudah menyadari kebiasaan mencurinya, maka tidak akan mudah mengelabui kesempatan, sekalipun ada seribu orang dalam rumahku,yang pertama akan ku duga adalah Bulan. Sekali lagi, aku pun turut menyesal tidak pernah menyadarkan Bulan dari awal, namun Bulan pun masih pantas keluar rumah dan menikmati hidup, ku mohon jangan ada lagi orang tua yang terlalu sibuk hingga harus membebani sang anak. Sejak saat itu, aku tidak pernah mengundangnya kerumah lagi dan ia pun sudah sungkan sepertinya untuk mengajakku menemani merapihkan rumahnya. Saat kami papasan pun kami cukup menebar senyum.