Tahun
Terakhir ku di Negeri Sebelah
Kita hidup di jaman remaja
bangga melakukan kenakalan dan mengatasnamakan kalimat ‘Gue bukan munafik’.
Tabiat nya manusia tidak pernah luput dari kesalahan, tetapi bukankah garis
hidup seseorang sudah terencana oleh takdir Tuhan? Namun hidup adalah pilihan
dan jika kita salah pilih, apakah Tuhan yang sudah menginginkan kita berdosa?
Hidup begitu
membingungkan bagi gadis yang beranjak dewasa seperti ku. Namaku Evalina dan ini
lah kisahku ketika mulai memasuki sisi kedewasaanku. Sisi gelap atau gemerlap hanya
tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Seperti contoh ini; jika
ku duduk berhadapan dengan seseorang, aku menulis angka 6 dan aku tetap
menyebutnya 6, tetapi seseorang di depan hadapanku akan berkata itu angka 9.
Seseorang tadi tidak salah, hanya saja untuk menganggap angka itu sama dengan
ku yaitu menyuruhnya duduk di sebelahku. Ku harap diriku bisa lebih sering
membuka pikiran orang-orang diluar sana yang terlalu cepat menilai sesuatu.
Kala itu
musim gugur di Melbourne. Tahun 2014 kian jadi saksi, tepat di kota nya ku
pijakan langkahku ke seluruh tempat yang suatu hari akan ku kenang. Rindu ku
sungguh dengan budaya jalan kaki.Tentu aku tidak selalu sendiri, dan kisah
perjalanan menyenangkanku tidak hanya satu hari. Mulai dari berkeliling di
pusat kota sampai berkelana hingga sengaja ‘tersesat’.
Berkunjung dan senang-senang
sebenarnya bukan tujuan utama ku ada di negeri kangguru. Sebelumnya aku sudah
tinggal bertahun-tahun di Australia. Aku ikut ibu kandung ku karena beliau
menikahi warga asli Australia. Itu pernikahan kedua ibu ku. Orang tua kandungku
telah lama bercerai. Aku anak pertama dari dua bersaudara dan ada di pihak asuh
ibu. Walau awalnya berat,tak hanya untuk menerima kenyataan orang tua ku harus
berpisah,serta kenyataan bahkan diriku terpisah oleh sang adik. Tetapi kami
tidak menyalahkan orang tua kami, justru kami bersyukur atas kesempatan dan
takdir yang kita harus jalani setelah pepisahan orang tua kami.
Hidup ku berlanjut terpisah Negara
oleh adik ku. Adikku terlihat menikmati hidupnya untuk terus tinggal di
Indonesia. Sementara tahun pertama ku di Australia tidak semulus yang semua orang
harapkan.Hidupku sungguh berubah,mulai dari bahasa yang harus ku gunakan,hingga
budaya individu yang ku hadapi. Aku sangat merindukan teman-temanku, ketika ku
sekolah aku semangat karena ada teman-teman terbaik yang aku akan jumpa, dan
ketika ku pulang juga ada teman dekat karena bertetangga. Aku terlalu sibuk
memikirkan ‘andai saja’, sedangkan ibu ku sibuk memikirkan keadaan sempurna
yang harusnya terjadi. ‘Andai saja’ ibuku tidak bercerai, ‘andai saja’ ibu ku
tidak melahirkan ku terlalu cepat, ‘andai saja’ aku bilang pada pengadilan saat
perebutan hak asuh,kalau aku lebih senang di Indonesia. Apa yang sebenarnya
bocah 9 tahun pikirkan di pengadilan? Yang ku tahu, suami ibu ku selalu membelikan
apapun yang ku minta di bandingkan ayah ku. Hal apa yang membuatku menolaknya? Tetapi
adikku tidak se-matre pikiran
bocahku,karena terbilang sudah termanipulasi oleh ibu tiriku dan secara tidak
langsung ia menanamkan pikiran buruk tentang ibu kandungku kepada adikku. Aku
tahu itu. Ibu ku terbilang belum tua,ibu ku dulu nikah muda dan jarak umurku
dan ibu hanya 20 tahun. Terbayang ego kedua nya? Maka muncul lah segala
perbandingan aku pada kedua Negara
Awalnya hidupku terasa
monoton. Pribadi ceria dan humoris ku berubah. Bahkan tiada lagi popularitasku
karena sering melanggar aturan. Aku hanyalah anak baru yang pendiam, dan
seolah-olah lugu. Butuh waktu lama untuk menemukan teman. Dandanan ku terlihat
culun. Bahkan walau sekelas, bukan berarti kita berteman. Sepulangnya ku
bersekolah, banyak sekali hal kecil dirumah yang harus ku perhatikan karena ibu
ku perfeksionis dan suaminya yang sangat peduli dengan personal higienis. Hampir
lupa, pasca menikah ibuku langsung hamil. Jadi selama ku di rumah,aku juga
harus terima disalahkan karna ulah adik ku yang satu ini,selain dari
kesalahanku sendiri karena apapun yang ku lakukan kebanyakan salah di mata ibu.
Aku si anak keras kepala dengan ibu yang ego nya juga besar, banyak hal kecil
yang ibu perbesarkan dengan nada-nada tingginya,seperti serpihan dari penghapus
pensil yang jatuh ke karpet. Belum lagi ayah tiri ku yang akan menasehatiku
karena salahku selalu berbicara balik saat dinasihati ibu dengan nada seperti
sambaran petir. Aku yang terlalu Indonesia atau mereka yang terlalu Australia? Serasa
dunia melawan ku seorang diri. Tidak akan ada yang di pihak ku. Kecuali,
mungkin kembali ke Indonesia. Begitulah pemikiran bocah puber.
Musim berganti dan berlalu,
tiba saatnya berlibur ke Indonesia. Pasti nya hanya singkat,dan aku harus
kembali. Dengan perasaan sedih dan segitu besar kehangatan rasa kerinduan
teman-teman terhadapku dan segala hal kita habiskan bersama bersenang-senang,
aku memutuskan tidak kembali ke Australia. Aku kabur dari ibu ku,dan hanya
menyampaikanya lewat handphone. Aku
tahu ibu ku hanya ingin melihatku bahagia. Ibu membiarkannya, tiket pesawatku
pun hangus.
Kejadian seperti itu tidak
hanya sekali. Entah segitu sulitnya atau kurangnya dukungan atau bahkan tidak
bisa berpaling dari hidup dengan kebiasaan di Indonesia yang menjerumuskan ku. Aku
berakhir dengan ijazah SMP dan SMA Indonesia. Aku terbuai dengan teman yang
rutin dengan kerja kelompok. Berkunjung kerumah teman hanya berjarak ketukan
pintu. Ku lalui masa sekolah ku di Australi,setelah lulus SMP di Indonesia ku
kembali melanjutkan studi di Australia tetapi menyerah untuk mengikuti tes
kelulusan. Sayangnya ketika tahun-tahun berikutnya ku kembali dan mencoba
bertahan, aku masih dengan jiwa labil yang gampang sekali terpengaruh. Padahal
ibu ku sudah sedikit berubah. Aku sudah lebih banyak teman dekat, bahkan semasa
liburanku lebih sering menginap dan berada dirumah teman di banding rumah. Aku
bahkan sudah mengikuti segala kegiatan komunitas Indonesia disana. Aku sudah
mempunyai tabunganku sendiri dengan bekerja paruh waktu. Tetapi, masih banyak
sekali alasan ku tuk kembali ke Indonesia. Aku selalu dari awal memohon untuk
mengusahakan adik kandungku tuk ikut tinggal di Australia. Sangat di sayangkan
ibu tiri ku mempersulit itu dan benar adanya manipulasi karna saat ku tinggal
kembali ke Indonesia dan mencoba tinggal bersamanya adalah kesalahan. Ia
mencoba meyakinkan ku bahwa ibu ku yang membuat rumah tangga nya sendiri
hancur. Untungnya aku sudah mengetahui dua sisi; ayah dan ibu ku. Mereka pasti
sama-sama tidak ingin disalahkan, dan aku bersyukur atas keikhlasan ku soal
perceraian mereka. Maka buat ku, melongkapi sekolah, ingin bekerja, hidup
sendiri tanpa aturan dan cepat dewasa adalah solusiku menjalani hidup lebih
mudah.
Tidak terfikirkan awalnya,
mengikuti tes kelulusan itu sebenarnya lebih susah di Indonesia, tetapi pikiran
ku yang mengsugestikan jangan khawatir karena ada banyak teman di sekeliling ku
untuk membantu. Lambat laun ku sadari hidup di Indonesia ku semakin seperti
orang susah. Aku harus tinggal di rumah kakek nenek yang jauh sekali dari
sekolahku. Antara Bekasi dan Jakarta ku berangkat subuh,sampe rumah isya,
langit selalu gelap untuk ku. Sampai ku tuntut ayah ku untuk membiayaiku kost dekat sekolah walau akibatnya ku harus
makan seadanya,bahkan hanya sebungkus Indomie
sehari. Jauh sekali dengan kehidupan ku yang serba ada semasa di luar negeri, yang semakin terus makmur karena juga bisa
kerja paruh waktu. Meranaku dikarenakan aku sempat tidak di perbolehkan tinggal
kembali dengan ayah ku oleh ibu tiri ku. Padahal yang terjadi bukan salahku dan
mau tahu siapa? Seling berapa bulan kemudian dia kena karma nya. Adikku,
terusir. Bukankah secara tidak langsung ku bilang bahwa resiko diriku sebagai
anak pertama harus selalu terima disalahkan karena ulah adik-adikku. Aku bukan
sedih atau senang karena ingin tertawa jahat kepada adik ku. Aku senang
akhirnya adikku dan ibu kandungku terbebaskan. Terbebaskan dari hal yang
merumitkan ibu ku untuk menemui adikku. Terbukti setelah kami lulus sekolah,
hidup kami lebih merdeka. Bahkan ketika ayahku pun bercerai lagi ku justru
bahagia ‘dengan’ nya.
Aku dan adik kandungku hanya
berjarak 1 tahun, tetapi aku berakhir dengan tingkat sama seperti adikku hanya
karena sekolah tidak mengizinkan aku langsung mengikuti tingkat akhir karena
SMA harus dengan memilih jurusan antara IPS atau IPA semenjak tingkat 2. Sangat
tidak di anjurkan juga untuk langsung ujian nasional dengan minimnya
pengetahuanku tentang pelajaran di Indonesia. Pada akhirnya kami lulus
bersamaan. Kami juga menerima kejutan yang luar biasa.
Tidak pernah ku rasakan
sebahagia itu saat ku di telephone ibu
dan di tugaskan untuk mengurus segala berkas untuk memperpanjang visaku dan mengajukan
untuk adikku, bahkan nenek ku. Kita berangkat ke Australia. Yang ku
impi-impikan terwujud, terbukti sekali ku lebih nyaman disana dengan adikku.
Ternyata yang ku alami semasa kecilku pertama kali disana pun wajar. Adik dan nenek ku mengalaminya,
baru beberapa hari mereka sudah merindukan Indonesia. Belum lagi keseganan akan
ayah tiri ku. Mereka sangat malu-malu melakukan sesuatu, hanya takut yang
mereka lakukan salah di rumah itu. Sempat terjadi konflik kecil karena perkara
tersebut. Karena disitu ayah tiri ku mungkin baru merasakan rasanya seperti aku
dulu terlalu Indonesia melawan kalian dengan budaya Australia. Sekarang kami
lebih kuat dengan budaya Indonesia melawan dia seorang diri dirumah itu, tapi
malah kami yang nyaris dipulangkan karena ke Indonesiaan kami yang sepertinya
belum tepat ada di Negara lain. Tentu harus di selesaikan dan akhirnya justru
setelah itu kami semakin leluasa dan lebih nyaman dirumah.
Adik dan nenekku hanya
sebatas berlibur dengan maksimal berada disana 3 bulan sesuai dengan visa
turisnya. Bisa saja di perpanjang, namun nenek ku harus kembali karena banyak
sekali yang harus beliau tangani, seperti rumahnya dan membantu merawat
cucu-cucunya yang harus tinggal bersamanya. Sementara adikku harus segera
memulai perkuliahanya. Adikku tidak punya banyak waktu untuk menyibuki dirinya
mendaftar ke kampus-kampus negeri, dan sebelumnya ayah kami pun telah mewanti
dengan keadaan biaya seadanya, kami sebaiknya memilih kuliah di tempat dengan
biaya yang murah dan cukup sampai diploma saja. Adikku telah selesai mendaftar
dari sebelum ia ke Australia. Sementara aku sibuk dengan mondar-mandir kantor
imigrasi, notaris dan agen pengurusan visa. Aku memiliki visa tinggal permanen
di Australia, maka aku meminta ibu untuk memberiku kesempatan tinggal sekali
lagi karena aku sudah terpaksa menunda perkuliahanku setahun. Aku ku pun
bertekad untuk mencari kerja,guna bisa mendapatkan perkuliahan lebih baik
dengan hasil keringatku sendiri. Aku sudah cukup dewasa dan terlalu malu untuk
terus meminta biaya apapun dari orang tua,dan karena selama ini pun aku sudah
sangat merepotkan ibu dan ayah tiri ku.
Tiga hari sebelum mereka
kembali ke Indonesia adalah ulang tahunku yang ke 20. Aku mengajaknya untuk
makan bersama di sebuah restoran tempat lama ku bekerja. Ibu ku menyarankan
untuk sekedar menyapa manager lama
ku, kemudian meminta ku mencoba bertanya jika ada lowongan. Hal baik yaitu
ketika banyak yang masih mengenalku. Boss ku pun ternyata sedang membutuhkan
karyawan. Aku langsung di terima tanpa harus menyerahkan surat lamaran lagi,
Semenjak kepulangan adik dan
nenek ku ke tanah air, sangat terasa sepi. Tetapi hidupku terlalu sibuk bekerja
dan menabung untuk menghiraukan kerinduan. Toh, hidupku di tanah air sudah tak
seindah masa-masa kecil dulu. Kebutuhanku semakin tinggi, hidupku sudah mandiri
dan susahnya mencari uang di Indonesia. Hingga teman-teman yang dulu ada pun
entah kemana. Apakah mereka hanya ada karena uang dan kesenangan yang ku
tawarkan? Kemana mereka sekarang saat ku butuh? Ku hanya berteman objek. Mengobrol
berbatas lewat seluler saja.
Hingga suatu ketika di salah
satu sosial media, ku lihat teman ku tampak berbicara dengan temannya. Terpajang
fotonya bersama seseorang yang ku kenal. Panggilannya Icha,ternyata dia adik
dari teman lama ku yang pernah
berkunjung di Australia. Sangat kebetulan, ia sedang berada di
Australia. Kami pun memutuskan segera bertemu. Takut tidak cocok, kami awalnya
sama-sama mengajak teman dekat kami. Tetapi kami justru lebih akrab daripada
teman dekat kami sebelumnya. Kami pun makin sering pergi berdua. Icha membuatku
lebih mensyukuri hidup untuk tinggal di negeri kangguru itu. Aku sadar banyak
orang yang ingin berkesempatan untuk bisa hidup sepertiku. Tetapi aku selalu
menepis tentang keindahan tinggal seperti ini,yang kenyataanya monoton. Sampai
Icha membukakan mataku kepada sesuatu yang bermakna.
Tanpa di sadari, aku sudah
terlalu Australia sebagai pendatang. Aku sudah terlalu menilai hal yang tidak
ada di Indonesia dan yang ada di Australia itu biasa saja. Seperti transportasi
tram, kereta yang berjalur
berbarengan dengan pengendara mobil atau motor lainnya. Gedung-gedung dengan
nuansa klasiknya, sudah terlalu sering ku lewati saja tanpa ku pandang dan
nikmati ke indahannya. Icha dengan caranya mengajakku untuk foto di segala
tempat indah yang tidak ku sadari karena ia melihatnya dengan mata turis. Aku
dulu selalu berfikiran akan menjadi norak
dan akan di lihat orang seperti kampungan, tetapi dengan Icha justru kami
dengan kelebihan perbedaan warna kulit dan budaya, kami berhak bertingkah
layaknya turis norak. Kami mungkin
hanya berdua, tetapi kami sangat mampu melawan dunia yang akan membentuk kami
menjadi yang dunia mau. Kami cukup kuat untuk menjadi diri kami sendiri. Kami
tidak harus berjalan dan bertingkah layaknya ‘bule-bule’ . Kami tidak harus peduli apa kata orang, anggap saja
kami tidak mengerti,dan tidak harus otak kami translate untuk di cerna. Karena kami punya cara sendiri bertahan
hidup di Negara orang. Kami masih bisa terus berbahasa Indonesia dimanapun kami
mau. Mulai dari mengomentarin orang lewat,harga di toko yang kemahalan atau sekedar
menilai orang dengan cara kami dengan bahasa rahasia tanpa harus ada yang sakit
hati.
Walau pekerjaanku sedikit
terkecoh, tetapi setidaknya aku mengerti untuk menikmati hidup. Untungnya Icha
hadir disaat tabungan untuk biaya kuliah sudah terkumpul. Karena itu berakibat
banyak hari libur yang aku minta dari kerjaan ku. Tetapi justru jadi motivasi
kerjaku, untuk akhirnya bisa kembali bertemu bersenang-senang. Aku sebenarnya
harus lebih banyak ambil shift kerja
karena senang-senang ada modalnya dan aku sudah di posisi cukup bingung dengan
kepunyaan uang yang sudah melebihi cukup tersebut. Maklum saja, jiwa muda yang
belum terlalu memikirkan masa depannya. Yang aku tau, aku akan kuliah, itu saja
dulu yang bisa terbesit. Lagipula jiwa muda ku, sudah cukup jenuh untuk selalu
kerja, aku tau aku membutuhkan hiburan.
Tidak lagi hanya sekedar
menapaki jejak ke segala penjuru kota, kami memutuskan mencoba club malam. Dengan itu aku fikir aku
sangat memanfaatkan dengan baik masa tenggang setahunku dan juga masa muda ku. Aku
tahu, aku mengatasnamakan “aku bukan munafik” dan “karena hidup cuma satu kali”
justru janganlah melihat dari sisi negatif saja. Setidaknya walau ibadahku
belum becus, tapi aku masih punya moral. Bahkan untuk pergi ke club/diskotik itu aku meminta izin. Ibu
ku secara agama sebetulnya religius. Sebenarnya perizinan darinya sangat sulit,
harus melalui negosiasi yang amat rumit. Kebanyakan
orangtua melarang anaknya pergi ke klub. Seperti biasanya para orangtua
mengeluarkan alasan-alasan klise seperti ada banyak orang jahat, pemabuk,
bahaya seks bebas, dan lain-lain. Pada akhirnya mungkin ibu ku justru
menghindari jika aku harus penasaran dan jika di larang aku akan tetap pergi
dengan berbohong,yang nanti nya jika terjadi sesuatu ibuku tidak akan tahu
karena aku terlalu paranoid untuk mengungkapkannya. Ibu hanya berpesan untuk
menjaga diriku dan ibu meminta ayah tiri ku yang mengantar dan menjemputku. Ibu
ku berharap aku hanya akan berjoget dan menari-nari saja sepertinya dengan
teman-temannya. Ibu ku sering menceritakan pengalamannya. Ayah tiri ku tidak naïf,
dan jika ku ingin memesan minuman, ia menyuruhku untuk selalu membeli nya
sendiri dan jangan pernah menerima apapun dari orang asing.
Aku tidak langsung
membanggakan foya-foyaku. Pertama kali ku mencoba nya, aku ingin sekali hanya
langsung ke lantai dansa dan menari seperti tiada yang memperhatikan. Aku dan
Icha telah mencoba nya namun entah mengapa itu sulit dan memalukan. Kami pun
mencoba memesan minuman, sebelumnya aku meminta teman sekolahku dulu untuk
memberikan ku panduan lewat pesan singkat. Terdengar seperti kutu buku pergi
berpesta bukan?
Kami menyadari sensasi senang melepaskan segala jenuh dan pikiran yang
pekerja keras seperti aku butuhkan. Banyak
realita sosial menarik yang bisa ditemukan di sana. Tentang cara berpakaian,
interaksi, perilaku, dan hiburan yang tak ditemukan di tempat lain. Maka
tiap akhir pekan selama berbulan-bulan kami terus melakukannya. Hingga akhirnya
aku tidak ingin lagi diantar jemput, karena ayah tiriku harus menjemputku
sebelum kami puas berjoget ria dengan begitu banyak minum untuk tertawa lepas. Kami
mengunjungi beberapa bar dan club di kota, dengan sedikit kebohongan
kalau kami hanya pergi ke kota untuk berjalan-jalan, dan mengakatan bahwa aku
akan menginap di tempat Icha dan begitu pula sebaliknya dengan Icha yang
mengaku akan menginap dirumahku. Kami berakhir melek semalaman, dengan satu
lagi teman baik kami yang juga pendatang, dari Skotlandia, bernama Michael. Mulai
dari tempat perjudian/ casino gratis
hanya demi membeli minuman beralkohol, dan kadang kala nya kami menguji
keberuntungan kami. Lebih sering uang judi itu akan kami buang lagi untuk
mencoba di permainan perjudian di tempat yang lebih berkelas. Kalaupun itu
menguras dompetku, aku akan segera cepat mengumpulkan uang kembali. Lagipula
cukup terbayar dengan segala sensasi yang ada.
Kami sepertinya tidak ingin
berfikir panjang akan kerugian dosa yang kami perbuat, kami hanya memikirkan keuntungan
positif. Pertemanan kami jadi lebih luas, dan tidak selamanya mengenal
seseorang dari club itu adalah orang
yang akan menjerumuskan mu ke hal buruk. Mungkin kami berdosa, mungkinkah Tuhan
yang sudah merencenakan itu? Salahkah aku bersenang-senang tanpa merugikan
orang lain? Ini hanya salah satu cara orang untuk bertahan menjadi sosok
bahagia di suatu tempat asing/berbeda. Anggap
saja ini sisi bercanda dalam hidup ku, karena sisi formal ku ya harus
menjalaninya dengan beribadah, mencari ilmu dan bekerja demi kelangsungan
hidup.
Hingga waktuku telah genap setahun disana, saatnya ku kembali meneruskan
perjalanan hidup dengan serius kali ini di tanah air tercinta. Aku sudah tidak
lagi main-main ke klub. Aku benar-benar puas dan ini fase taubat untuk
meluruskan ibadahku. Aku tahu hidup itu pilihan,seperti walaupun aku ke klub mungkin memang mengarahkan ke aktivitas negatif
tapi aku punya pilihan untuk memilih untuk terus “iya” atau “tidak” sudah
cukup. Walaupun tinggal di luar negeri, janganlah terlalu besar menghayal untuk
keindahan yang kamu harapkan. Ini hanya lah caraku melaluinya. Aku seharusnya
berharap ada cara lain yang lebih baik, tetapi apa yang salah dengan ini? Tidak
ada yang berasumsi aku orang jahat. Aku masih sempat terus aktif dalam kegiatan
komunitas Indonesia, terus mengenalkan budaya Indonesia lewat tarian dan kostum
busana adat yang aku sering tampilkan. Terlebih aku justru bangga memanfaatkan
kegiatan pergi malam ku dengan benar. Karena tidak sendiri pula, kita bisa
saling menjaga diri. Kesetia kawanan sangat teruji dan terbukti, kami mengambil
giliran permalam untuk saling bertanggung jawab dan menjaga kadar alkohol teman
dekat kami,maka dari itu ada baiknya jika aku dan Icha pergi bertiga, aman
terkendali ketika ku dan Icha ada di pengawasan Michael.
Jadi, janganlah cepat menilaiku,duduklah di sampingku
agar kau dan aku ada dipihak yang sama. Selama ini orang tua melarang anak clubbing berdasarkan stigma negatif dari media
massa. Kalau aku secara langsung pernah mencobanya, kelak ku punya senjata lebih
kuat untuk melarang atau tidak anak ku bukan? Setidaknya aku akan tahu jika
anak ku berbohong. Hempas dari itu, aku pastinya tidak akan penasaran lagi.
Bahkan ada kala aku boleh jadi akan sadar kalau clubbing tuh ternyata hanya begitu saja. Banyak juga orang yang justru setelah ke club malah
menemukan banyak alasan lebih tepat untuk tidak ke sana lagi. Lagipula, aku kini sudah fokus dengan
kuliahku,dengan tidak menyia-nyiakan hasil jerih payah ku dan saat aku mengetik
ini, kejadian tadi hanyalah kisah 5 semester yang lalu, di tahun terakhir ku di
negeri sebelah.